Wednesday, September 28, 2011

Sedih


(source: http://blogspot-tips2.blogspot.com/2011/04/mercedes-benz-mobil-mewah-terbaik.html)

Bahagia itu beda untuk semua orang, abstrak dan ngga bisa diukur dengan apapun, entah uang, jabatan dan hal lain. Sedih rasanya kalo orangtua selalu mengukur-nya dengan hal hal materialistis.
Seperti misalnya orangtua bilang ke kita, "Belajar yang rajin biar besok bisa kaya bapak beli mercedes keluaran baru" Saya suka sedih kalo anak belajar cuma disuruh biar besok bisa jadi pejabat yang uangnya banyak, malah melupakan esensi belajar itu sendiri. Apakah mercedes menjamin kita bahagia, Pak? Apakah jadi pejabat DPR RI menjamin kita bahagia nantinya, Bu? Tidak ada yang bisa menjamin kebahagian dan memberinya patokan. Secara kasat mata mungkin iya, contohnya, DPR RI yang pertengahan taun ini melaksanakan studi banding ke negara negara Eropa dan yang dihasilkan bukannya materi untuk memajukan pemerintahan malah piknik bareng keluarganya (oke saya mungkin awam dalam hal ini, coba cek blog Basuki T. Purnama di sini untuk lebih jelasnya). Mereka terlihat seperti anak TK yang sungguh pathetic, menginginkan liburan ke luar negeri. Apakah mereka bahagia? Makan uang rakyat untuk jalan jalan ke luar negeri dan sepulangnya ke sini yang dibawa malah tas tas dan sepatu high end bukannya ilmu yang seharusnya didapat dari study. Oke, stop cerita tentang government Indonesia, saya ngga ngerti, awam, ngga ingin sok tau dan menggurui. Tapi poinnya apakah kebahagiaan itu didapat dari harta?

Jika generasi muda sekarang ini diajarkan untuk bersifat konsumerisme, hedon, apa apa diukur dari price dan bukan value, mau jadi apa negeri kita? Mau jadi negeri permainan anak TK?
Mengapa tidak mulai sekarang katakan, "Bapak senang sekali bisa setiap hari bersama kalian dan ibu kalian, tanpa perlu mobil bagus bagus bapak sudah bersyukur sekali ada kalian, kalian yang selalu men-support. Terimakasih banyak ya." Anak anak pasti akan berpikir bahwa tujuan kita bukan mercedes, tapi kesejukan hati, rasa syukur, dan ketenangan. Rasa syukur yang bukan terpaksa karena dikira bersyukur itu ibadah yang nilainya 99 poin pahala. Ew, tentu saja bukan rasa syukur yg seperti itu. Rasa syukur menerima apa yang dititipkan-Nya di dunia ini pada kita tanpa perlu egois dan serakah. Kalo dipikir sih mustahil. Hari gini apa sih yang ngga pake uang? Mau pipis aja bayar. Well memang iya, makannya itu kita dikasih akal, gimana sih biar pipis ngga bayar? Gimana sih biar apa apa ngga perlu pake uang (dalam hal ini menjadi bahagia)? Pake akal mu, jangan cuma pake duit, kekerasan, kekuasaan. Malah kalo diliat di kota kota besar itu banyak yg stress gara gara ngejar duit melulu padahal rumahnya juga udah bagus, mobilnya bagus, penghasilannya di atas UMR banget. Kalo dibandingin sama orang orang desa yang apa adanya, ikhlas dan lebih sumringah, kontras sekali. (mungkin bisa bandingin orang orang jakarta dan joga, yg notabene jogja bukan desa yang isinya sawah kaya di ftv)

Silakan saja sih kalo ada yg filosofi tentang hidupnya adalah menjadi orang yang uangnya banyak, menurut saya sih jangan sampai lupa aja untuk menghargai hak orang lain, menghargai diri sendiri, jangan terlalu terbawa lifestyle yang sekarang keliatannya ada ada saja, menghindari sifat sifat DPR RI yang sekarang (semoga nantinya governmet lebih bijak, malu ngga sih kita tinggal di negri yang kaya raya tapi sekolah gratis aja ngga bisa terwujud?), setidaknya sekarang jangan ukur orang itu bahagia atau engga dari rumahnya, kendaraannya atau gadget nya. itu sih harapanku, setidaknya untukku sendiri :D

Tuesday, September 27, 2011

Kehilangan Mandi


Heart in a Heartbreak by The Pains of Being Pure at Heart

Memiliki kekasih untuk pertama kalinya adalah hal yang menyenangkan sekali, setidaknya untukku.
Putus dengan kekasih untuk pertama kalinya, yang notabene hubungan telah dijalankan lebih dari setahun bahkan dua tahun, adalah hal yang cukup aneh. Ya, memang sedih. Ya, memang galau. Tapi yang jelas ada kekosongan tersendiri. Kekosongan yang aneh kalo aku bilang. Yang biasanya setiap hari selalu diperhatikan dari bangun tidur, makan, mandi, pergi tidur dan bangun tidur lagi. Yang biasanya juga selalu ada untuk bercerita atau pergi bersama atau sekadar mengisi rasa bosan.. selama waktu yang cukup lama.
Pacar tidak seperti teman biasa yang mana teman biasa itu akan sangat awkward jika kita setiap saat memperhatikan gerak geriknya, menanyakan hal hal kecil seperti sudah mandi belum atau semoga tidur nyenyak dengan emote cium peluk dan cumbuan lainnya. Saat tidak ada lagi pacar, harus apa aku? Harus kepada siapa aku seperti itu?
Secara tidak langsung pacar itu sudah bagian dari hidup, bagian dari aktivitas. Seperti misalnya kalo biasanya dulu kamu tiap bangun tidur mandi, dan mandi itu tidak ada lagi sekarang, ada yang terasa kurang, ada yang terasa aneh di dirimu, entah bau atau tidak segar atau gatel gatel. Mandi pun tidak bisa dengan tiba tiba kita ganti dengan suatu kegiatan asing, misalnya berkubang, akan sangat berbeda rasanya saat kita masih punya mandi. Seperti itu mungkin ilustrasinya.
Ya, intinya aku di sini ingin curhat (dan boleh dibilang sedikit caper). Saya merasa ada yang kosong dan kurang. Bukan hanya itu, aku rasa tidak gampang untuk memperbaikinya. Ironis sekali saat tahu bahwa sebelumnya aku tidak memiliki kekasih selama 16 tahun dan baik baik saja. Ya, aku memang menyedihkan.
Menurutku, putus pertama kali ini menyiksa, cukup menyiksa. Tapi tidak menyesalinya. Ini saatnya mencari 'aktivitas' lain :D

Saturday, September 17, 2011

She Is Too Pretty




She is my youngest and only sister. She lives out of town for some reasons (and I wish she'll back to the same town with me 2 years from now, really wish so much!)
Anyway, don't you think she is so pretty? she used to be so chubby like this:

hahaha she turns out so different. and I envy her so much.
I wish she'll always in a good health, good relationship with friends and stay down to earth and classy. I love her so much :)

Friday, September 16, 2011

Girl-Hate

Seorang cewek mungkin benci cowok. Tapi kebenciannya ngga seberapa kalo dibandingin dia benci sesama cewek.
Oke, mungkin ini sebuah isu klasik yang ababil banget kalo anak anak jaman sekarang (seperti saya) bilang.
Semua cewek pasti pernah membenci satu sama lain, baik yang tampak, yang terasa, yang tercium atau yang tak tampak, tak terasa, bahkan tak tercium.
Kalo saya bilang, cewe itu mengerikan sekali dalam hal benci membenci. Semua hal se-simple apapun kalo dilakukan oleh orang yang sedang cewe benci itu akan jadi hal seburuk buruknya hal, benar benar deh kalo bisa jangan sampai dibenci cewek.
Saya ngga mau subyektif di sini, baik dalam sisi hater maupun the one who is hated.
Pertama, kenapa membenci?
Cewek itu sebagian besar matre. Matre bukan dari segi harta benda aja, tapi juga matre dalam hal fisik, penampakan luar dan kebendaan lainnya. (Sebagian besar) cewek tergila gila mengejar keindahan yang sifatnya duniawi, baik disadari maupun engga. Hal itulah yang menggiring kita untuk membenci satu sama lain. Saat cewe lain cantik, pakainnya bagus, perhiasannya menyilaukan, pacarnya ganteng, pastilah masuk ke pikiran kita bahwa 'kenapa ngga aku aja yang seperti itu. toh dia ngga lebih baik dari aku' maka dari itu mulailah mata melihat dengan sinis dan akhirnya timbul kebencian. Mungkin seperti itu praktisnya kalo di otak saya.
Bisa juga: semua orang (dalam hal ini, cewek) pasti ingin dipandang dan diperlakukan sama. Jika ada cewek yang dipuja puja, disegani dan dielukan, sebaik apapun dia pasti banyak juga pembencinya. Karena para pembenci ingin juga diperlakukan seperti itu, mungkin.
Jadi, semuanya itu berasal dari rasa iri ya?
Ya bisa dibilang begitu. Tapi saya lebih suka menyebutnya kompetisi, dimana cewek suka sekali berkompetisi dalam hal hal semacam itu. Tapi, ujung ujungnya malah jadi ribut.
Kalo misalnya kita ngga ngapa ngapain kok tau tau dibenci?
Kamu ngga tau aja kalo kelebihanmu yang menyilaukan itu banyak, tapi kalo misalnya tau yaudah ngga usah lebay, jangan malah dilanjutin ntar malah keliatan maksa. Yang penting sih kalian stay cool aja, dan jangan sampai keliatan sok sok an cool. Ngga usah ambil pusing, gitu deh simple nya. Dan jangan sekali kali sampe sindir sindiran di jejaring sosial atau bahkan pake kata kasar :P
Apa bisa salahkan takdir saja kalo udah gini?
ya kalo itu mah terserah pribadi masing masing aja ya, tapi kalo menurut saya sih sebaiknya kita berhenti jadi ababil dan mulailah menghargai dan mencintai diri kita sendiri niscaya rasa benci ke orang lain itu sedikit demi sedikit mulai pudar karena pikiran kita dipenuhi rasa bahagia :D

Stay classy girls :D

Sunday, September 11, 2011

The Worst Thing About Death

Death is not that scary or miserable. It's very sad because we (the person who still live today) are being left by. I my self better be the dead one than the one who gets left.